PENERAPAN NILAI SILIH ASAH, SILIH ASIH, DAN SILIH ASUH DALAM PENGASUHAN ANAK SEBAGAI UPAYA PREVENTIF TERJADINYA JUVENILE DELINQUENCY PADA REMAJA DI KOTA BANDUNG

Dolla Rizka S., Dian Ratnasari, Ritmi Nur Hamidah Ihsan

Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung

nrhitmy_asd@yahoo.com, ola_yk@yahoo.com, dhee_staralways@yahoo.com

 

INTISARI

Makalah ini mencoba menyajikan sebuah alternatif dalam rangka mencegah munculnya juvenile delinquency pada remaja di Kota Bandung.

Dewasa ini fenomena kenakalan remaja semakin meluas. Kenakalan remaja merupakan masalah kompleks diberbagai kota di Indonesia. Kenakalan remaja disebut dengan istilah juvenile delinquency. Santrock, (1996) mengemukakan bahwa kenakalan remaja (juvenile delinquency) merupakan kumpulan berbagai prilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal. Geng motor merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja yang meresahkan dengan berbagai aksi anggotanya seperti tawuran, pembajakan angkutan umum, hingga hal-hal yang menjurus kriminal. Di Kota Bandung, anggota geng motor mencapai 30.000 orang. Fenomena geng motor merupakan salah satu bentuk  juvenile delinquency yang disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor keluarga. Juvenile delinquency tidak lepas dari peran orang tua dalam proses pengasuhan anak. Gerald Patterson dkk (dalam Santrock, 1996) mengemukakan bahwa pengawasan orang tua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Dalam pengasuhannya, orang tua memiliki gaya/pola pengasuhan yang berbeda-beda dan menghasilkan perilaku berbeda pada anak-anaknya.

Bandung sebagai salah satu kota yang ada di Jawa Barat yang memiliki nilai filosofi budaya tersendiri yaitu budaya Sunda dapat dikembangkan sebagai pedoman khas Indonesia (kearifan lokal) dalam mengembangkan perilaku masyarakat khususnya remaja. Filosofi “Silih asah, silih asih, dan silih asuh” (saling mempertajam diri, saling mengasihi, dan saling memelihara dan melindungi) dapat dijadikan alternatif dalam proses pengasuhan anak sehingga dapat mencegah munculnya perilaku juvenile delinquency pada remaja.

Kata kunci : silih asah, silih asih, dan silih asuh; pola asuh; juvenile delinquency.

Fulltext: Pdf

Leave a reply